[H1] Sebatas Orek-orekan

Tulisan ini bermula dari sepulang saya dari acara seminar Tere Liye (sebenarnya bukan khusus tentang Tere Liye, tapi tantangannya kan dari beliau 🙂

Tantangan ini bermula dari salah seorang peserta yang ingin sekali mengungkapkan apa yang dia rasakan namun terasa sulit dan Bang Tere bilang, “Kamu harus janji pada dirimu sendiri untuk menulis seribu kata setiap hari selama 180 hari. Jika ada satu hari saja kelupaan, maka ulangi dari awal.”

So, what we can do then?

Meskipun tantangan itu bukan untuk saya pribadi, saya kan tetap dengar yang beliau ucapkan dan saya juga termasuk salah satu peserta to? Jadi, ya, ayo dicoba!

Untuk menulis seribu kata per hari adalah gampang-gampang susah. Se-masa SMA saya giat sekali menulis. Aduh, kalau sehari nggak nulis rasanya nggak lengkap. Tapi, semenjak saya masuk jurusan Sastra Indonesia. I don’t know why minat nulis saya menurun drastis. Bahkan rasanya hampir menghilang. Dan saya sadar betul akan hal itu. Membuat kepikiran, apa sih yang salah sama diri ini?

Hingga di suatu waktu dalam seminar kepenulisan oleh Tere Liye juga (namun beda tempat) rekan saya yang satu prodi ternyata mengalami hal yang sama dan menanyakan keluh kesahnya. Saat itu Bang Tere bilang, alasan kenapa kita tidak produktif lagi menulis hanya satu: MALAS.

Kalau dipikir-pikir benar juga. Selama ini saya ter-la-lu malas dengan berbagai alasan. Masih banyak tugas lah, nggak ada mood, ini lah, itu lah, padahal kalau diingat-ingat se-masa SMA juga nggak kalah sibuk. Sepulang dari seminar itu, saya terus cari alasan dan menemukan fakta bahwa saya terlalu takut.

Berada di lingkungan sastra Indonesia yang notabe-nya kalau soal novel dan sebagainya itu wah merasa sangat kecil sekali. Dan kenapa saya takut? Karena sampai hari ini, lingkungan ini kebanyakan suka dengan novel “berbobot sastra”. Karya yang lahir di zaman balai pustaka, angkatan baru, 45, 50 dan sebagainya itu.

Yang bikin saya agak jengkel sebenarnya saat membeda-bedakan karya zaman itu dengan sekarang yang memang bisa dilihat dipasaran lebih condong pada genre remaja kebanyakan. Tentu saja dan pasti beda jauh. Mereka yang menulis di zaman itu pasti punya perjuangan dan esensi yang berbeda dengan merasakan kejadian langsung, tiap kata yang ditulis juga harus dipikirkan baik-baik karena menggunakan mesin tik yang notabenya jika salah tidak bisa tekan tombol backspace dan harus mengulanginya lagi. Saya juga sadar jika bobot nilai yang dimiliki dan yang ingin disampaikan sangatlah dalam, namun karya zaman sekarang bukan berarti tidak memiliki amanat yang dapat diambil.

Saya hanya kurang suka jika karya sekarang hanya untuk hiburan, dengan sudut pandang yang saya rasa memandang sebelah mata pada karya para remaja. Dari yang saya pikir, memang boleh berkomentar sedemikian rupa karena bacaan pokoknya sudah terbiasa dengan novel sastra seperti itu, namun alangkah lebih baik jika menghargai apa yang ditulis oleh penulis remaja saat ini. Menulis sebuah novel bukan perkara mudah. Ada saat-saat kita buntu dan saya rasa semua penulis pernah merasa kegelisahan semacam itu.

Saat baru-baru masuk sastra Indonesia saya benar-benar—aduh—tidak ada semangat menulis karena tahu dosen saya bersikap demikian. Tapi sekarang, ya udah kenapa harus takut?

Hal-hal yang sebenarnya saya takutkan adalah hinaan. Saya terlalu takut mendapat kritik dari seorang dosen yang apalagi berjabat dalam prodi kajian sastra. Saya sadar jika karya-karya saya sangat jauh dari apa yang ditulis oleh para penulis balai pustaka, pujangga baru, dan lainnya. Namun, semua penulis pasti memiliki alasan kenapa dia menulis. Bagi saya, menulis adalah hal yang indah apalagi jika niatnya untuk kebaikan. Selama karya itu tidak mengandung SARA, pornografi, dan hal negatif lainnya, sebuah karya patut untuk diapresiasi.

Saya tidak setuju jika karya zaman now dibilang murahan, bernilai rendah, dan lain-lain. Karena boleh jadi, karya-karya itu walau kata-kata yang dimilikinya tidak sememukau karya fenomenal terdahulu, dapat mengantar pembacanya pada hidup yang lebih baik.  Seperti dalam seminar Tere Liye dimana beliau mendapat petuah dari sang guru dan menjadikannya tergugah untuk menulis. “Satu huruf bisa mengubah satu kata, satu kata bisa mengubah satu kalimat, satu kalimat bisa mengubah satu paragraf, satu paragraf bisa mengubah satu buku, dan bisa jadi satu buku bisa mengubah kehidupan seseorang.”

Saya tahu jika saya akan mengalami hal yang demikian saat masuk prodi ini: saya akan menjumpai banyak orang-orang hebat yang bisa saja saat saya melihat mereka, saya merasa minder atau sebaliknya. Saya juga cukup terkejut saat Allah menempatkan saya di prodi ini. Karena sejak zaman sekolah saya pikir pelajaran bahasa Indonesia itu yang paling ribet. Sumpah! Bikin pusing tujuh keliling apalagi kalau saat menelaah puisi.

Saya suka menulis, tapi benar-benar susah untuk terjun ke dalam sastra yang sesungguhnya. Namun, awalnya sudah sangat yakin jika saat penjurusan akan memilih sastra dari pilihan sastra, linguistik, dan filologi. Daaan, niat itu langsung menguap saat saya kena marah dosen sastra XD kekanakan banget sih, tapi kalau dipikir-pikir juga kurang srek dan kurang nyaman. Terus milih apa? Kalau saat ini tertarik sama filologi. Pilihan yang katanya dari tiap angkatan kurang dari sepuluh mahasiswa yang pilih. Okesip.

Jadi, jika dilihat dari segi teori tentang persuasif lah, ini, itu, saya sebetulnya nggak paham-paham betul. Saya nulis ya cuma nulis. Nulis aja. Dan entah kenapa saya merasa menyesal karena membuang begituuuu banyak waktu dengan ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Berhenti untuk melangkah dan berdiri mematung dengan tetap berada di satu titik. Takut jika melangkah akan terjatuh, dan saya lupa akan fakta jika selama kita berjalan tentu saja ada saatnya kita jatuh, namun seperti nasehat lama, jika jatuh bangunlah dan jalan lagi, jatuh lagi, bangun lagi, begitu seterusnya hingga sampai pada penghujung jalan yang kita idamkan.

Sebenarnya, tujuan utama saya sejak awal adalah sastra Inggris pilihan kedua saya tentang keperpustakaan, dan entah bagaimana di awal saya memilih, laman yang saya akses eror. Saya coba klik tetap saja gagal, jadi di close aja, coba lain kali. Saya buka web SNMPTN di hari-hari mendekati deadline pengisian di pagi buta sebelum subuh dan entah kenapa tangan saya klik ‘Sastra Indonesia’ di pilihan kedua. Saya benar-benar nggak ada niatan, hanya asal klik saja dan saat pengumuman ternyata saya lolos di sastra Indonesia. Sebuah takdir yang selalu membuat saya terharu. Seolah-olah Allah menyiapkan tempat itu untuk saya. Jadi, walau aka nada beberapa jalan yang harus saya hadapi dengan berjuang, berlapang dada, saya yakin apa yang Allah pilihkan untuk saya ini adalah hal yang tepat.

Tulisan ini benar-benar mengalir karena dari keluh kesal hati yang terpendam selama ini. Padahal, niat awal untuk tantangan menulis di hari pertama ini untuk membahas Yuka Kinoshita si youtuber Jepang yang selalu setia jadi pendamping saat makan. Ya sudah, lain kali saja bahas ini. Hati saya terlanjur ngalir dan mendobrak unek-unek yang tersimpan apik selama di sastra Indonesa.

Dan tantangan hari pertama: done.

 

 

 

Iklan

UNAIR UNTUK WORLD CLASS UNIVERSITY

Universitas Airlangga atau yang sering disebut UNAIR merupakan salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Sebagaimana yang dilansir dalam Unair News (15/06/2016), Universitas Airlangga menduduki peringkat empat perguruan tinggi terbaik di Indonesia menurut Lembaga Pemeringkatan dunia Quacquarelli Symonds (QS) University Rankings (UR). Pemeringkatan itu dihitung berdasarkan metode QS UR, yakni reputasi akademik (30%), reputasi alumni (20%), rasio mahasiswa dan dosen di fakultas (15%), sitasi per penelitian (10%), penelitian per fakultas (10%), rasio tenaga kependidikan asing di fakultas (2,5%), rasio mahasiswa asing (2,5%), rasio mahasiswa asing yang studi di UNAIR (2,5%), dan rasio mahasiswa UNAIR yang melanjutkan studi di kampus luar negeri (2,5%).

Sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, tentu universitas Airlangga dapat menjadi acuan bagi perguruan tinggi lain. Dengan segala infrastruktur dan fasilitas yang baik, mampu membuat mahasiswanya merasa nyaman dalam beraktivitas di kampus. Namun UNAIR juga harus meningkatkan publikasi jurnal-jurnal yang terindeks Scopus. Scopus sendiri adalah sebuah pusat data terbesar di dunia yang mencakup puluhan juta literatur ilmiah yang terbit sejak puluhan tahun, sebelum terjadi Perang Dunia II hingga saat ini. Fungsi utama Scopus adalah membuat indeks literatur ilmiah untuk memberikan informasi yang akurat mengenai metadata masing-masing artikel ilmiah secara individual, termasuk di dalamnya adalah data publikasi, abstrak, referensi, dll[1].

Universitas Airlangg (UNAIR) saat ini gencar untuk mencapai tiga ratus publikasi jurnal yang terindeks Scopus untuk menjadi World Class University yang menduduki peringkat 500 dunia seperti yang ditargetkan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), M. Nasir, bahwa UNAIR didorong untuk masuk peringkat 500 dunia pada tahun 2019[2]. Untuk menjadi World Class University, seluruh pihak dari mulai rektor, para dosen, dan mahasiswa diharuskan ikut ambil alih demi terlaksananya tujuan.

Mengusung Universitas Airlangga menuju Top 500 World University bukanlah hal yang mustahil. Dalam daftar peringkat terbaik di dunia periode 2017-2018, Universiras Airlangga berada di kelompok peringkat 701-750. Untuk terus menaikkan peringkat, maka UNAIR terus melakukan peningkatan reputasi akademik dengan konsisten menjalankan visi dan misi dalam pembelajaran akademik, serta melakukan update kurikulum berdasarkan penelitian dosen sebagai bagian dari materi kurikulum. UNAIR juga tengah fokus dalam bidang-bidang intersional, seperti pengiriman mahasiswa ke luar negeri dan penambahan jumlah mahasiswa asing ke unair. (Jawa Pos, 10 Juni 2017).

Dengan adanya tujuan bersama menuju Top 500 World Class University maka secara tidak langsung mahasiswa-mahasiswa universitas Airlangga juga memiliki impian yang harus dicapai. Seruan untuk segala perbaikan bukan hanya sebatas kata untuk universitas, namun juga bagi mahasiswanya agar menjadi mahasiswa berprestasi. Prestasi ini bisa dalam berbagai bidang, baik melalui perlombaan, penulisan jurnal, penelitian, bahkan pertukaran pelajar. Prestasi mahasiswa-mahasiswa ini nantinya juga menjadi tolak ukur keberhasilan universitas Airlangga dalam mencapai peringkat 500 menuju World Class University.

            Kalimat “World Class University” sendiri juga selalu ada dalam segala lambing dalam universitas Airlangga, seperti halnya pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kenapa UKM juga memiliki suara untuk World Class University? Karena UKM merupakan wadah bakat luar biasa yang dimiliki oleh seluruh mahasiswa universitas Airlangga. Di dalam UKM terdapat 39 jenis UKM yang terdiri atas beberapa devisi, yakni kerohanian, khusus, olahraga, seni, dan beladiri. Di dalam setiap devisi itu lahir berbagai prestasi tingkat regional, nasional, bahkan internasional yang mampu menjadikan universitas Airlangga sebagai perguruan tinggi terbaik. yang mampu menjadi juara seperti halnya seruan UKM, yakni UKM UNAIR: Semangat Dadi Juara.

            Sebagai mahasiswa universitas Airlangga, berprestasi bukan hanya menjadi sebuah tujuan atau impian semata, namun menjadi kewajiban. Untuk melatih segala aspek kemampuan dan mengembangkan bakat, Unit Kegiatan Mahasiswa mampu menjadi penopang. Selanjutnya, para mahasiswa juga harus melatih kecakapan diri, seperti belajar dengan rajin dan menjaga nilai di dalam setiap mata kuliah, melatih kecakapan dalam berbahasa inggris dengan lulus standar ELPT Universitas Airlangga, serta aktif dalam segala kegiatan. Karena menjadi mahasiswa berprestasi bukan hanya sekadar mahasiswa yang memiliki nilai tinggi, namun juga sosialisasi yang baik dengan mengikuti kegiatan-kegiatan positif yang ada.

Universitas Airlangga bukanlah perguruan tinggi negeri biasa yang hanya menjadi sarana pembelajaran saja. Namun perguruan tinggi berkelas yang memiliki visi dan misi Menjadi universitas yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora berdasarkan moral agama. Banyak sekali orang di luar sana yang menginginkan Garuda Mukti sebagai lambing almamater mereka, jadi jangan buang kesempatanmu setelah menjadi bagian dari Airlangga dengan menjadi mahasiswa biasa. Bangun dan siapkanlah sayapmu untuk meraih impian. Jadilah bagian mewujudkan Universitas Airlangga menjadi Top 500 World Class University.

[1] http://ict.um-surabaya.ac.id/article/apa-itu-scopus (diakses pada 13 September 2017, pukul 19.55 WIB)

[2] http://kelembagaan.ristekdikti.go.id/index.php/2016/07/15/tiga-ptn-ditarget-masuk-500-besar-dunia/  (diakses pada 13 September 2017, pukul 20.04 WIB)

Jakarta Kali Pertama

Inginnya mengulang kembali kenangan beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Desember. Lebih tepat lagi tanggal 12. Ada apa? Karena hari itu aku terbang ke Jakarta. Yeyey!

Dalam rangka menjadi finalis dari perlombaan yang diadakan oleh Direktorat Kementrian Agama, aku diundang ke-Jakarta-untuk mempresentasikan tulisan. Sebenernya masih nggak nyangkah Allah kasih kesempatan untuk menjadi salah satu anak dari enam siswa se-Indonesia yang terpilih. Aku nggak pernah berangan bisa sampai di event nasional sepenting ini. Biasanya sekedar ikut-ikut lomba dan beberapa antologi cerpen, tapi Alhamdulillah hari itu Allah memberi hadiah yang tak pernah aku kira.

Awalnya saat hari pengumuman, aku nggak minat baca hasilnya. Pesimis. Apalagi saat tahu jadwal pengumuman sempat diundur satu minggu karena peserta yang sangat banyak. Meski begitu, hati kecil tetap pengin berharap aja, tapi ya tetep nggak mau liat hasil pengumuman. Aneh, kan? Hehe

Hingga akhirnya pukul satu dini hari aku terbangun, segera meraih hp dan mendapat satu pesan jika aku lolos. Sontak saja rasa kantuk hilang. Aku buru-buru membuka laman kemenag dan mengunduh nama finalis. Dan ternyata benar! Karena nama aku depannya ‘A’ alhasil berada di atas sendiri 😀

Rasa senang setelah lolos harus dibarengi dengan sibuk nyusun bahan presentasi. Karena aku menggunakan konsep dongeng. Aku berkali-kali memutar video-video pendongeng. Dan hal ini entah mengapa membuat aku tertarik untuk jadi pendongeng di kemudian hari!

Setelah hampir dua minggu, akhirnya aku berangkat ke jkt bersama satu guru dan Abah. Seneng deh pihak kemenag kasih syarat harus bawa satu orang tua. Katanya biar bisa langsung kasih support dan doa. Sweet masa :’)

HARI PERTAMA

Aku sampai hotel kira-kira jam 10, dan baru bisa chek-in pukul 2. Jadilah aku dan rombongan finalis lain duduk-duduk lelah di lobi. Di sana, aku hanya kenalan dengan anak dari sama-sama Jawa Timur, karena nggak tau di mana yang dari derah lain.

Setelah nunggu lama dan menyerahkan berkas-berkas ke panitia, kami bisa chek in. Alhamdulillah.

Sesampainya di kamar aku nggak tahan untuk tidur siang. Karena aku satu kamar dengan guru, jadi agak kaku. Ternyata lebih asik sekamar sama sesame siswa kayak lomba biasanya.

Sampai kamar aku nggak langsung tidur, cek bahan buat presentasi besok. Rasanya panas dingin tiap mau presentasi

Malam pun datang. Di sana akhirnya aku bertemu dengan 12 anak yang akan menjadi teman seperjuangan. 6 dari lomba Ceris (termasuk aku) dan 6 dari lomba KIR. Malam ini hanya perkenalan dan sambutan dari Pak Direktorat. Perjuangan kita akan dimulai esok hari.

HARI KEDUA

Yap! This is d-day. 

setelah semalaman suntuk latihan, hari ini adalah penentuan. Aku mendapat nomor urut 2. Awalnya ada ‘hambatan’ hampir-hampir aku tampil pertama, tapi pas aku mau maju, folder peserta pertama beres. Duduk lagi deh fuuh syukurr

Saat bagian aku. Aku sumpah nerves asli. Aku ingat gugupnya aku presentasi di depan ratusan siswa saat mengikuti suatu lomba di tingkat provinsi . Kali ini memang hanya di depan 5 siswa, tapi orang tua, guru, dan perwakilan tiap provinsi, panitia dan juri besar ada di hadapanku. Duh.

Waktu yang diberikan untuk mempresentasikan karya kita adalah 15 menit. Aku yang memiliki riwayat suka ngejer saat gugup akhirnya pegang mic dengan dua tangan, soalnya kalo satu tangan keliatan banget mic-­nya getar-getar -_- dan aku tahu itu akan menjadi nilai minus.

Nerves aku makin tambah saat para juri sibuk ngerekam aku. Ada rasa bangga dan seneng sih sampe jurinya terlihat suka, tapi aku jadi makin sulit kontrol diri. Yaudah lah terus aja!

Selesainya presentasi, aku mendapat tepuk tangan meriah. Seneng! Walau gugup parah ternyata Alhamdulillah para juri, panitia, dan temen-temen yang lain suka. Katanya mereka sampe mau nangis hiks. Pas mau balik ke tempat duduk aku langsung di tarik sama Bu N yang mengantar Jawa Timur. Diciumi. Aku sampe malu.

Beban di pundak terasa terangkat sepenuhnya setelah presentasi. Aku tahu rasanya kurang maksimal, tapi itu adalah kerja keras aku. Aku yakin siapapun juaranya nanti, dia memang yang terbaik.

Setelah 6 peserta berhasil mempresentasikan karya, kami pun foto-foto ria!

Sebelum keluar ruangan, panitia memberi pengumuman jika beberapa menit lagi ada kelas seminar bagi Karya Tulis Ilmiah. Aku yang udah capek banget milih nggak mau ikut, ternyata empat temen aku yang lain juga! Cuma 1 anak yang rajin banget ikut kelas. Akhirnya kita berlima pun jalan-jalan sendiri hehe

IMG20161213104425.jpg

Lokasi hotel bener-bener bikin baper. Di depan mall, di samping kiri mall, kanan mall. Ya Allah… akhirnya kita sepakat ke toko buku aja—tempat yang bikin baper berkali-kali lipat!

Capek muterin toko buku dan akhirnya gak beli apa-apa, kita coba cari minum. Yang lucu, kebanyakan minumnya nggak abis! Pada kenyang semua. Kejadian lucunya pas si Nana asik ngobrol pasal farmasi sama si seniornya Manda, tanpa sengaja minumnya tumpah ke seragam aku. Wkwk. Yang lain bercanda marahin Nana, tapi aku emang gak bisa marah karena kejadiannya malah lucu!

Setelah capek muter-muter mall, kita balik ke hotel. Pas sampe hotel eh suruh makan siang. Ekspresi kita tuh pada ‘masih kenyang abis, suruh makan?’

Pokoknya hari kedua yang diawali dengan kegugupan ini menjadi hari terbaik!

Sampai di malam hari di mana waktu yang paling dredeg, kami sudah pada akrab. Hal yang paling bikin kesel adalah waktu sambutan yang lamaaaaaaa banget. Kita udah pada ngantuk-ngantuk tapi masih campur dredeg. Pas panitia yang umumin juara maju, kita saling pegangan tangan. Semenit. Dua menit. Ya Allah, sumpah itu waktu yang paling ‘uh!’ banget. Lembaran nomor keterangannya banyak banget.

“Juara Harapan 1 Ainun Masruroh”

Pas denger itu langsung pengen nangis. Bersyukur Alhamdulillah. Kita semua udah saling pelukan deh. Akhirnya tahu juga nomor juaranya. Tinggal penyerahan penghargaan dan yang penting–foto-foto dong!

 

IMG-20161215-WA0035.jpg

 

Karena gedung yang bagian depan masih sibuk sama si bapak-bapak akhirnya kita lari ke belakang, ngumpul, dan cheers!

HARI KETIGA

Ini hari yang paling sedih. Setelah akrab, tiba-tiba kita pisah lagi. Nggak banyak yang terjadi di hari ketiga, hanya jalan-jalan di TMII berduaan sama Abah udah gitu langsung pulang.

pokoknya kali pertama aku ke jkt ini bener-bener nyiptain pengalaman yang nggak bakal bisa kelupa!

Sampai jumpa lagi kawan-kawan kemenag!

 

[Giveaway] Review Blog: Naelil The Climber “Climb With Your Heart”

 

Review?

Yap! Kita akan nge-review sebuah blog yang selalu menjadi langgananku. Si Kak Naelil (panggilan buat kak blogger) ini sering update artikel lho. Sabar banget ya nulisnya, sampe-sampe pas sekali buka Kakaknya udah update beberapa kali.

FYI, ini untuk pertama kali aku nge-review. Jadi benar enggak nya aku angkat tangan. Yang jelas. Aku mau nulis apa-apa aja yang aku tahu meski nggak banyak tentang blog ini.

NAELIL THE CLIMBER

Itu “judul” blog-nya. Pertama tahu kira-kira bulan Ramadhan dua tahun yang lalu. Saat itu lagi kepoin Mbah Google tentang informasi SNMPTN, SBMPTN, dan beasiswa. Yah… sejenis itulah.

Pertama baca tulisannya, aku udah nge-fans sama gayanya kak Nae. Artikel yang ditulis itu kayak bikin bara semangat meletup-letup #eaa

Ini serius! Dua-tiga lebih rius malah!

Dari satu artikel ke artkel lain. Kepoin blognya terus. Dan menyimpulkan Kak Naelil keren ya udah diterima di UGM, diterima beasiswa Turki juga. Alhamdulillah, suatu hal yang luar biasa. Rasanya ikut seneng gitu. Nggak tau kenapa.

Setelah habisin waktu lama baca tulisan kak Nae, aku liat cerpennya yang berjudul “Gugus Khayal Laksita”

Kayaknya aku pernah baca ini cerpen…

Akhirnya inget kalau itu cerpen yang aku baca dari majalah Horison di perpustakaan sekolah. Pas itu aku baca biografi Kak Nae dan salut banget tau Kak Nae udah punya banyak kumpulan cerpen. Karena aku tipe anak yang suka nulis, aku selalu kepo sama anak yang bisa nulis hehe. Dan seperti takdir aku nemuin blog si penulis! And I love it so much!

Pas pertama tahu, aku kepoin kak Naelil parah. Komen-komen nggak penting di blognyalah—maaf ya Kak—terus kirim email yang sampai sekarang belum kebuka lagi karena lupa kata sandi-___- (ini juga maaf banget kak).

Pokoknya aku Alhamdulillah wa syukurillah banget sama Allah dikasih tahu blog keren ini. Blog yang bikin aku moody kalau lagi sumpek. Yang ngisi waktu luang buat terus baca. Yang menginspirasi. Banyak lah!

Manfaat?

Tentu ada! Insya Allah banyak!

Setiap artikel memiliki topik yang berbeda, maka segi manfaatnya juga berbeda-beda. Kak Naelil bagiku mencoba menghanyutkan pembaca untuk berpikir lebih positif atas apa pun yang terjadi.

Di blog ini juga banyak banget review tentang buku. Hal ini buat aku pengen coba nge-review juga tapi ga keturutan terus hehe dan nulis ini lah review pertama kaliku.

Review kak Nae yang berbahasa inggris juga sangat membantu. Karena aku suka English tapi gak mahir-mahir, maka postingan ini cukup membantu untuk melatih bahasa inggrisku yang buruk ini.

Blognya juga rapi banget. Nggak bakal pusing kesasar deh kalau buka. Isinya juga beragam dan bermanfaat. Cerpen-cerpennya juga kece abis. Ini adalah postingan favorit! Cerpen yang selalu ada amanat yang indah juga gaya tulisan yang sederhana namun membuat pembaca terkesima.

Oh iya, nama blog ini Naelil The Climber. Aku sampai cari di google translate lho. Hasilnya “Naelil Pemanjat”

Dari pemikiranku sih Kak Nae ini orang yang suka dan selalu berusaha meraih impian dan terus mendaki untuk menggapainya. Pokoknya kalau aku lagi bosan dan kangen kak Nae aku langsung ketik “Naelil The Climber”. Dan Insya Allah akan ada di posisi teratas. Kayak kak Nae udah berhasil manjat sampai puncak!

Harapan?

Kalau aku boleh berharap, semoga kak Nae nggak bosen-bosen ngurus blognya tapi tetap fokus dengan studi-nya. Masalah aku ingin kak Nae nulis apa di blog, aku mau kak Nae nulis apa aja yang kak Nae suka. Yang penting ikhlas dari hati agar pembaca merasakannya dan mendapat manfaat dari setiap rangkaian kata.

Aku rasa cukup sekian yang bisa aku review (entah ini review atau curcol). Terima kasih buat kak Nae yang dua tahun ini ikut mewarnai hariku dengan tulisan-tulisannya. Seperti kata adik Kak Nae: Aku sayang kak Nae!

Akhir kata: Silahkan buka, dan kamu akan jatuh cinta dengannya!

#4THGANAELILTHECLIMBER

DARE to DREAM

Kehidupan selalu penuh dengan harapan. Dan meraih harapan merupakan  tantangan bagi kehidupan.

Memutar waktu. Seusia 15 tahun lagu yang sering kuputar adalah Angela Aki – Tegami (Haikei Juugo no Kimi e)

Kepada diriku saat 15 tahun. Ada benih kecemasan yang aku tidak bisa katakan pada siapa pun
Jika surat itu ditujukan kepada diriku di masa depan
Pasti aku bisa benar-benar menceritakan rahasiaku pada diriku sendiri

Karena lirik itu aku selalu menulis surat untuk diriku di masa depan tiap tahunnya. Memceritakan seluruh mimpi seusia itu. Ada banyak mimpi. Dan tantangan pertamaku adalah saat membaca buku tentang seorang gadis yang telah membajak samudra di usia 16 tahun.
Lalu apa yang bisa kulakukan di usia 16 tahun?
Apakah aku bisa menulis sebuah novel?
Sejak itu, aku selalu berusaha. Dan aku berhasil tapi hanya menulis. Tidak sampai diterbitkan. Harapanku sempat pupus, tapi suara nakal dalam diri ini terus bergema.
“Kenapa berhenti mencoba? Kalau gagal tidak ada ruginya, kalau berhasil Alhamdulillah kan?”
Dan tantangan itu terus membara.

Sekarang, tolong jangan kalah dan jangan meneteskan air mata
Sebelum saat-saat ketika kamu tampaknya akan menghilang
Hanya percaya pada (suara) dirimu sendiri

Hanya percaya pada diri sendiri. Karena segala usaha untuk mencapai harapan ada di tanganmu. Kita hanya perlu terus berusaha, dan Allah yang memberi nilai untuk usaha kita.
Meskipun terlambat, Alhamdulillah di usia 17 tahun aku menyelesaikan tantangan besar dalam hidupku.

image

Novel yang penuh dengan perjuangan. Ya, karena tiap tercapainya harapan harus memiliki perjuangan agar tantangan hidup mendapat stempel : SELESAI

Jadi, teruslah berani untuk bermimpi.

Pelangi Tak Akan Membenci Hujan

Bagaimana bisa pelangi membenci hujan jika tanpanya ia tak pernah ada?

Kepalaku menunduk dalam. Jari-jemari terus menari di layar sentuh, dengan sesekali berhenti saat memori bekerja merangkai kata.
Terlalu banyak. Terlalu lelah. Bahkan terlalu sulit untuk mengatakannya.
“Aku benci masalah keluarga.” Seorang teman lelaki berkacamata menangis di depanku. Bibir ini hanya mengatup. Selalu tak bisa berkata apa pun ketika mengungkit “keluarga”. Bahkan dia seorang lelaki…
Keluarga adalah masalah terburuk jika menjadi luka.
Kenapa dua orang yang saling mencintai bisa saling membenci setelah berikrar untuk sehidup semati?
Wajah seorang perempuan yang serupa denganku termenung menatap langit. Aku mengelus pundaknya. Mengatakan tidak apa-apa selama kita memiliki Allah. Semua akan baik-baik saja.
Lalu dia mengangguk, tersenyum, lalu tertawa, kemudian menangis. Melakukan hal yang sama sampai beberapa jam. Aku terus duduk di sampingnya, ikut menangis. Begitu juga seisi rumah.
Kenapa berkeluarga bisa membuatmu seperti ini?
Hanya masalah sepeleh. Namun menjadi besar. Inilah alasan  si perempuan manja menjadi dewasa dalam sekejap setelah pernikahan. Dia terlalu memendam semuanya.
Kenapa cinta yang sudah bersatu memiliki rintangan yang lebih besar?
“Hidup adalah perjuangan. Jika tak mau berjuang, jangan hidup.”
Kalimat mutiara yang dilontarkan Ayah sewaktu aku dan adik menulis resolusi dan kalimat penyemangat yang memenuhi dinding kamar kembali terngiang.
Ayah, perjuangan seperti apa itu? Bagaimana jika kami kalah dalam pertempuran?
“Kamu harus menang melawan dunia. Jangan biarkan dunia menertawakanmu karena terjebak dalam ujian semu. Berjuanglah, karena surga menunggu para pejuang untuk mengetuk pintunya. Berjuanglah meski di tengah hujan badai dan temukan pelangi-Nya.”
Jari-jemari semakin lincah dari satu huruf ke huruf lain. Kalimat Ayah di teras rumah kemarin sore terus berkeliaran dalam kenangan ditemani aroma tanah sehabis hujan.
Kepalaku mendongak. Menatap perempuan berupa sama denganku. Menggendong bayi sambil tesenyum nikmat. Badai telah reda. Tak selamanya masalah menggelora. Semakin berat ia, semakin berat hikmah indahnya.

***
Kelas, 10 Maret 2016
Edisi too ngarang gara-gara novel Om Liye “Daun Yang Jatuh Tak Akan Membenci Angin”